Kategori : NEWS

Saksi Tegaskan Pepi Sebagai Dalang Teror
By : Admin | 27 January 2012

“Saya merasa tergerak untuk mengikuti jejak Pepi untuk melawan penindasan bangsa Yahudi terhadap umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di wilayah Indonesia,” ungkap Hendi.

Saksi Tegaskan Pepi Sebagai Dalang Teror

Kesaksian eksekutor Bom Buku dan Serpong Hendi Suhartono mengukuhkan temuan polisi bahwa Pepi Fernando merupakan otak dari teror bom buku, Puspitek Serpong, Gereja Christ Katedral, dan Bom Termos.

Hendi Suhartono yang merupakan sahabat Pepi, mengaku terus terang bahwa rentetan teror bom tersebut merupakan perintah Pepi Fernando. Seperti dilaporkan FaktaPos.com, pada mulanya ia mengaku tidak tahu tujuan Bom Buku, Puspitek dan Gereja Christ Katedral di Tangerang.

“Yang tahu tujuan tersebut adalah Pepi Fernando," katanya saat menjadi saksi dengan terdakwa Pepi Fernando di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (26/01/2012).

Pria lulusan IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, bahwa dirinya kenal dengan terdakwa sejak tahun 1997, saat sama-sama masih kuliah di sana.

"Saya satu angkatan kuliah dengan terdakwa. Setelah lulus, saya kerja di kelurahan sambil usaha sablon, sedangkan Pepi kerja di dunia wartawan (infotaiment). Dia datang setelah saya menikah," papar Hendi kepada majelis hakim yang diketuai Moestofa.

Menurut saksi, usai lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah, mereka berdua sudah jarang bertemu lagi. Namun suatu ketika, sahabatnya itu berkunjung kerumahnya yang berada di Jasinga, Bogor.

"Waktu itu terlihat ada perubahan pada diri Pepi, terutama dari penampilan fisik. Ia dulu tidak berjenggot dan ganteng," katanya dengan polos.

Dalam pertemuan itu, kata Hendi, Pepi sering menceritakan tentang makna jihad. Dia juga sempat membawa Flashdisk yang berisi film tentang pembantaian umat Islam di Palestina oleh bangsa Israel.

“Kami berdua akhirnya menonton di komputer saya. Di situ terlihat ada anak-anak kecil dan ibu-ibu hamil yang dibantai tentara Israel. Selain itu ada juga film konflik Poso di mana anak-anak kecil dan ibu-ibu dibunuh secara sadis. Ada pula film tentang perjuangan bangsa Chechnya dan Afghanistan. Menurut Pepi, semua tindakan itu harus dilawan," tutur Hendi saat ditanya hakim tentang alasan ketertarikannya mengikuti tindakan Pepi Fernando.

Setelah melihat film itu, saksi mulai terpengaruh dan berpikir bagaimana kalau hal tersebut terjadi dengan keluarganya.

“Saya merasa tergerak untuk mengikuti jejak Pepi untuk melawan penindasan bangsa Yahudi terhadap umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di wilayah Indonesia,” ungkap Hendi.

Beberapa minggu kemudian, Pepi kembali mengunjungi saksi di rumahnya. Pepi menawarkan cara-cara perlawanan itu. Salah satunya dengan mengirimkan paket buku yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mengeluarkan getaran.

“Saat saya tanya kenapa buku tersebut mengeluarkan getaran? Jawaban Pepi, ‘Kamu tenang saja," kata Hendi menirukan Pepi.

Hendi juga mengakui, rancangan bom buku itu dibuat di rumahnya. Pepi bahkan sempat menyuruhnya membeli petasan di penjual kembang api. Meski demikian Hendi mengaku tidak tahu secara persis apa yang dilakukan Pepi.

"Waktu itu saya lagi sibuk, saya bekerja di depan komputer di kamar yang lain," ungkapnya.

Hendi menuturkan, Pepi fernando berhasil membuat bom buku sebanyak delapan buah. Ia sempat diperingatkan Pepi agar berhati-hati dengan kedelapan paket buku yang sudah diplastiknya. "Hati-hati buku ini berbahaya. Nanti bisa meledak," ujarnya menirukan Pepi.

Lebih lanjut saksi mengaku turut membantu Pepi menuliskan nama-nama keempat target paket bom di komputer.

"Setelah itu saya bersama Pepi mengantarkan paket bom buku tersebut ke beberapa kantor pos yang berbeda di wilayah Bogor agar tidak terlacak," ucap saksi.

Saksi mengetahui paket bom yang ia kirimkan kepada Ulil Abshar Abdallah di daerah Utan Kayu Jakarta Timur meledak dan melukai anggota Polisi dari pesan singkat yang dikirimkan Fajar, rekannya.

"Setelah melihat efek ledakan Bom Buku, saya merasa takut dan resah  karena baru pertama kali. Saya sempat menanyakan kepada Pepi. Tapi dia menjawab, ‘kamu aman,’" papar Hendi.

Hendi Suhartono sendiri menjadi terdakwa dalam kasus yang sama.

Jur. Syafiq

Tanggapan
Comments (0)
Penerimaan Mahasiswa Baru Jangan Diskriminatif
"Penerimaan mahasiswa baru jangan diskriminatif, ta.....
By : Admin | 22-02-2012
Di India, Server Blackberry Bermanfaat Membendung Teroris
Keberadaan server BlackBerry tersebut untuk mendapatkan .....
By : Admin | 22-02-2012
Hukum Ditegakkan, Radikalisme Terkikis
Seringkali hukum dipermainkan oleh aparat penegak hukum,.....
By : Admin | 22-02-2012
Gagasan Empat Pilar Kebangsaan Kunci Kerukunan Bernegara
Gagasan empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 19.....
By : Admin | 22-02-2012
Pedoman Pendidikan Karakter Dikembangkan
“Pokok pemikiran pedoman telah dilengkapi dengan .....
By : Admin | 22-02-2012
Imam Masjid New York Himbau Agar Berdakwah Dengan Cara Damai
Berkaitan dengan maraknya kekerasan yang dilakukan oleh.....
By : Admin | 22-02-2012
Kategori : Artikel
Radikalisme Bukan Makhluk Baru
.
By : Admin | 17-01-2012
Kategori : Opini
Menegaskan Ulang Makna Jihad
.
By : Admin | 23-11-2011
Kategori : Cerpen
Kategori : Blog
Islam Agama Cinta Damai
.
By : Admin | 19-01-2012
Sejarah Islam di Afrika
.
By : Admin | 23-11-2011