|
Lazuardi Birru (www.lazuardibirru.org) mengadakan bedah novel grafis mengenai tragedi Bom Bali I berjudul “Ketika Nurani Bicara” yang mengisahkan Ali Imron sebagai pelaku pengeboman, H. Bambang Priyanto sebagai relawan dan Hayati Eka Laksmi sebagai korban, dengan narasumber: Nasir Abas (eks Jamaah Islamiyah), Wahyu (koordinator illustrator), Sade (tim peneliti).
Teroris Indonesia, “Ketika Nurani Bicara” Tragedi Bom Bali I
Teroris Indonesia, Tragedi Bom Bali I “Ketika Nurani Bicara”, Bedah Novel Grafis , Indonesia Book Fair 2010, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. 3 Oktober 2010 Pukul 19.00 WIB Pada Indonesian Book Fair 2010, Lazuardi Birru membuka stand di Ruang Cempaka B6 No. 112 dimana dijual dan dipamerkan beragam buku berkaitan dengan issue terorisme, khususnya teroris indonesia.
Dua diantaranya adalah terbitan Lazuardi Birru yaitu: novel grafis “Ketika Nurani Bicara” dan buku “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme di Indonesia ”. Dalam stand tersebut, Lazuardi Birru membuka luas kesempatan pada generasi muda untuk mengetahui permasalahan lebih dalam mengenai teroris indonesia ( kegiatan terorisme dan aksi teroris di indonesia ) melalui bacaan yang ada dan Islam yang cinta damai dengan menjadi anggota pada website www.lazuardibirru.org.
Sebagai rangkaian acara, Lazuardi Birru bersama dengan Masyarakat Komik Indonesia (MKI) mengadakan Workshop Komik Digital dan Lomba Desain Komik Digital, yang diadakan pada tanggal 7 Oktober 2010 mulai pukul 16.00 WIB. Workshop tersebut diadakan secara cuma-cuma dan terbuka untuk umum. Sedangkan lomba komik diadakan tanpa biaya pendaftaran dengan total hadiah Rp. 7.750.000, bertema “Indonesia Bersahabat: Hidup Damai dalam Keberagaman”. Tidak terdapat batasan umur bagi para peserta dan peserta tidak dipungut biaya pendaftaran. Hasil karya di email ke info@lazuardibirru.org dan cc kan ke masyarakatkomik@yahoo.com dalam email disertakan data diri dan HP.
Novel grafis “Ketika Nurani Bicara” mengisahkan tragedi Bom Bali I sebagai aksi serangan bom terbesar dalam sejarah teroris Indonesia. Novel grafis ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh Ali Imron, H. Agus Bambang Priyanto dan Hayati Eka Laksmi. Ketiga figur tersebut menuturkan nuraninya dalam sudut pandang yang berbeda.
Ali Imron yang dicap sebagai teroris Indonesia salah satu pelaku pemboman. Ali bertutur mengenai keterlibatannya dalam gerakan terorisme di indonesia dan serangan bom, keraguannya dalam melakukan aksi teror, dan penyesalannya yang tiada akhir. H. Bambang bertutur mengenai kepedulian para relawan dalam menolong para korban dan melakukan evakuasi tanpa memandang agama, suku bangsa dan kewarganegaraan tanpa mengharapkan imbalan. Kemudian Hayati, ibu dengan dua anak yang bertutur mengenai perjuangan hidup dan kegigihannya untuk bangkit menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami yang wafat menjadi korban Bom Bali I. Ketiganya berbicara, mengutarakan isi hati nuraninya kepada generasi muda untuk Indonesia damai.
Dipilihnya format novel grafis merupakan hasil dari penelitian kualitatif melalui diskusi kelompok terfokus, baik di Jakarta dan Solo dimana para peserta generasi muda Islam, di tingkat SMA dan Universitas lebih memilih novel grafis sebagai media penyampaian pesan. Untuk menciptakan alur cerita yang terinspirasi dari kejadian faktual, Lazuardi Birru juga telah melakukan penelitian literatur dan internet, menyaksikan film dokumentasi berkaitan dengan Bom Bali I, mengadakan wawancara dengan para sumber dan observasi di beberapa wilayah yang dianggap penting terkait tema terorisme Indonesia yaitu: Lamongan, Gresik, Surabaya, Bali dan penjara.
Pada cetakan pertama, novel grafis “Ketika Nurani Bicara” telah dicetak sejumlah 10.000 eksemplar. Sejumlah 8.000 eksemplar diantaranya dibagikan secara cuma-cuma ke 2.000 lokasi yang meliputi mesjid, pesantren, SMA/SMK, kampus, universitas serta perpustakaan di 33 provinsi. Sejumlah 2.000 eksemplar akan didistribusikan melalui toko buku. Novel grafis ini juga akan dibuat dalam format e-book dalam bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Arab dan Melayu. Daftar lokasi distribusi tersebut dapat diakses melalui www.lazuardibirru.org.
Ketua Lazuardi Birru Dhyah Madya menyatakan bahwa “Novel grafis ini dibuat untuk menekankan kepada generasi muda pentingnya kehidupan berbangsa yang damai, pemahaman yang benar terhadap makna Jihad dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya laten dari gerakan yang mempropagandakan kekerasan atas nama agama, kisah dalam novel grafis ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda ke depan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama”, kesalahan para ‘terorisme Indonesia’.
Melalui novel grafis Ketika Nurani Bicara, Ali Imron berpesan “Saya mengajak kepada masyarakat umum khususnya generasi muda Indonesia agar tidak mudah terpengaruh dengan ajakan Jihad yang memiliki makna tidak utuh, sepotong-potong. Serta pentingnya peran orang tua dan lingkungan pendidikan sebagai pelindung bagi masuknya nilai-nilai kekerasan khusunya pemahaman terorisme Indonesia, dengan memberikan pemahaman yang kuat dan utuh serta mencakup konsep perdamaian sebagai ciri dari Agama Islam yang menjunjung tinggi Hablumminallah, Hablumminannas dan Hablumminannaum”.
H. Agus Bambang Priyanto berpesan bahwasanya ” ..diharapkan agar anak-anak muda ini mengerti dan memahami dengan baik akan sejarah bangsa ini. Itu yang paling penting. Nah, yang kedua...berhati-hatilah dalam memahami ajaran agama. Karena, sekarang ini, ada suatu kelompok yang memang beraliran keras, beraliran radikal yang selalu menyampaikan khotbah, bahwa ia merasa dirinya yang paling benar dan dekat dengan Tuhan. Sedangkan yang lain dari dirinya tidak. Yang demikian ini, anak-anak muda harus waspada..apalagi di dalam mendekati anak-anak muda, kelompok terorisme ini sangat piawai dalam merekrut, memberikan doktrin dengan segala cara. Jadi...anak-anak muda haruslah waspada terhadap mereka!”
Hayati Eka Laksmi menyampaikan pesan kepada generasi muda Indonesia “Karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, rahmat untuk seluruh umat, maka pahamilah ajaran Agama Islam secara benar. Kalaupun ingin membela Islam, ambillah cara-cara yang postif, jangan memakai cara-cara yang justru hanya mencelakakan banyak orang seperti bom Bali. Nah...orang-orang yang kemarin itu mencelakakan Bapak beserta orang lainnya, adalah sekelompok orang yang melakukan tindakan keliru. Tindakan yang tidak baik. Karena apa? Karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, yaitu rahmat untuk seluruh umat. Jadi, kita tidak bisa begitu saja menyakiti sesama mahluk hidup..apalagi membunuhnya. Jadi, Kakak dan Adik...tindakan yang seperti itu tidak boleh kalian tiru ya!”
Lazuardi Birru mengucapkan terima kasih atas peran aktif para narasumber: Ali Imron, H. Agus Bambang Priyanto, Hayati Eka Laksmi, M. Chozin, Ja’far Shodiq, H. Ali Fauzi dan Datasemen Khusus 88 Anti Teror Bareskrim Polri yang telah memberikan akses wawancara, beserta para pihak lainnya yang telah memberikan tanggapan positif atas terbitnya novel grafis ini. Terdapat setidaknya 12 tanggapan positif dari berbagai pihak yang dapat dibaca dalam novel grafis bertema terorisme Indonesia “Ketika Nurani Bicara”.
Lazurdi Birru menerima pendaftaran bagi perpustakaan atau institusi pendidikan yang ingin mendapatkan novel grafis Ketika Nurani Bicara secara cuma-cuma melalui Email: info@lazuardibirru.org, SMS: 02191303779
Foto dan cuplikan video berkaitan dengan Ketika Nurani Bicara dapat diakses di www.lazuardibirru.org dan Facebook Islamdidadaku (LB)
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Nugroho Wahyujatmiko Ketua Umum Lazuardi Birru Hp. 0815 925 1532 Email: nugroho@lazuardibirru.org
Dhyah Madya Ruth S.N. Ketua Lazuardi Birru Hp. 0816 731 936 Email: dhyah@lazuardibirru.org
|